Berita Terbaru :

Sabtu, 26 Maret 2011

Sejarah Marga Simamora

Tempat Tinggal atau Bonapasogit
Tipang diyakini sebagai Bonapasogit dari Raja Sumba (yang digelari sebagai Sumba Napaduahon) yang merupakan salah satu anak dari Ompu Tuan Sorba Dibanua yang delapan orang itu. Setelah menikahi Boru Pandan Nauli, yaitu putri dari Raja Lontung dari negeri Sabulan, Raja Sumba berangkat menyisir ke arah selatan dan membuka perkampungan disalah satu tempat yang kemudian dinamai Tipang.

Menurut Geografis Pemerintahan, Tipang terletak dalam wilayah Kecamatan Bakti Raja (Singkatan dari Bakkara, Tipang, dan Janiraja) Kabupaten Humbang Hasundutan dan saat ini dihuni oleh kira-kira 450 kepala keluarga dan 1.725 jiwa. Tadinya Tipang terdiri dari tiga desa, yaitu: Desa Tipang Dolok, Tipang Habinsaran, dan Tipang Hasundutan, tapi saat ini hanya tinggal satu desa saja.

Berbatas sebelah timur dengan danau Toba, sebelah selatan dengan Bakkara, sebelah barat dengan sisi terjal bukit arah Siria-ria dan sebelah utara dengan Janjiraja, disanalah terletak Negeri Tipang yang indah permai. Sama halnya dengan semua tempat yang terletak dibibir danau Toba yang amat permai pemandangan alamnya, tapi bagi sebagian orang khususnya marga Simamora dan Sihombing, Negeri Tipang adalah tempat yang merupakan bonapasogitnya.

Sejarah Marga atau Silsilah
Silsilah marga Simamora kalau kita urut mulai paling atas adalah sebagai berikut, Silsilah Marga Batak mempunyai 2 orang putra, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isombaon, dari anak yang kedua ini lahirlah tiga orang putranya. Dari ketiga putranya itu hanya anaknya yang pertama yaitu Tuan Sorimangaraja yang tinggal di Bonapasogit Pusuk Buhit (tempat yang diyakini sebagai asal mula suku batak).

Tuan Sorimangaraja mempunyai 3(tiga) orang istri yaitu :
  1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan. Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Rasaon. 
  2. Si Boru Biding Laut (Nai Ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan. Si Boru Biding Laut melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Ambaton.
  3. Si Boru Sanggul Baomasan (Nai Suanon). Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon.
Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra.
Dari istri pertama (putri Sariburaja):
  1. Si Bagot Ni Pohan, 
  2. Si Paet Tua,
  3. Si Lahi Sabungan,
  4. Si Raja Oloan,
  5. Si Raja Huta Lima.
Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) :
  1. SI RAJA SUMBA
  2. Si Raja Sobu,
  3. Toga Naipospos.
Dari perkawinan dengan Boru Pandan Nauli, Raja Sumba dianugerahi dua orang putra, anak yang tertua yaitu SIMAMORA yang mempunyai keturunan Purba, Manalu, dan Debataraja dan SIHOMBING yang mempunyai keturunan Silaban, Nababan, Hutasoit, dan Lumban Toruan. Ketujuh keterunan tersebut secara terus-menerus menempati TIPANG hingga saat ini dan pengaturan pembagian warisan sawah dan lading diatur dengan musyawarah dan damai secara turun-temurun.


Pusaka Peninggalan
Tipang adalah nama dari seseorang yang disebut “Duhut-Duhut Simardimpos dohot Tano Simarhilop” yang topografinya dibagi dua, yaitu Tano Birong yang ditempati oleh Simamora dan keturunannya dan Tano Liat yang ditempati oleh Sihombing dan keturunannya.

Tipang adalah tempat yang banyak menyimpan sejarah atau Pusaka Peninggalan Raja Sumba dan tempat sakti.

BATU PAUSEANG
Disuatu tempat, yakni di bagian belakang atau sebelah selatan dari huta dari marga Hutasoit dan sebelah timur dari pusat keramaian Tipang, terdapat tiga “Batu Pauseang” yang diterima oleh Raja Sumba dari Raja Lontung.

Ketiga batu tersebut ukurannya kira-kira sebesar bola kaki yang diletakkan begitu saja dan hingga saat ini tidak terawat sama sekali dan hampir hilang ditutupi semak belukar yang rimbun.

Ketiga batu tersebut, yaitu:
  1. Batu Siboru Gabe : Asa gabe dihajolmaon, gabe naniula (melambangkan kemakmuran atas sawah lading yang dikerjakan oleh seluruh keturunannya).
  2. Batu Siboru Torop: Asa torop maribur huhut sangap angka pinomparna (yang melambangkan supaya berkembang biak / beranak pinak dan sukses seluruh keturunannya).
  3. Batu Siboru Sinur: Asa sinur ma pinahan (melambangkan kemakmuran atas ternak yang dikembangbiakkan oleh seluruh keturunannya)
Ketiga Batu Pauseang tersebut pada masa dahulu, digunakan sebagai tempat sacral terlebih bila musim tanam tiba. Ketika masa mencangkul (ombahon) selesai dan tiba saatnya menanam padi, maka beberapa jenis padi dibawa ke Batu Pauseang, untuk didoakan dan diletakkan disana selama beberapa hari. Bila harinya tiba tersebut, para ibu akan datang kesana dan akan mendapati tanda bahwa jenis padi tertentulah yang akan ditanami di seluruh Tipang pada musim tanam itu.

NAMARTUA GUMINJANG
Tempat mengisyaratkan suara ogung doal. Bila berbunyi maka akan ada orang yang Saur Matua

NAMARTUA SIDIMPUAN
Tempat mengisyaratkan suara ogun oloan, pangoaran dan gordang bolon

NAPOSO LAHI-LAHI ULIAN MATANIARI
Suara dan tanda yang terbentang di Tipang.

BATU PARTONGGOAN
Tempat berdoa untuk menolak mara bahaya.

BARU JAGAR-JAGAR
Batu berupa patung dimana tidak boleh berdusta.

BATU MARAKTUK
Sigala-gala binaga (sebagai syarat akan terjadi peristiwa besar).

GUA JARINA
Gua yang dalam, tempat berdoa dan mensucikan diri.

BATU SADA
Tempat penyimpanan sari-saring (tulang-tulang) turun-temurun.

PUSAKA TANO HAJIRAN
Pusaka yang sangat ampuh untuk menolak bala (alogo nasohapundian, udan nasohasaongan dohot napajolo gogo).

AIR TERJUN

Tempat bersemedi untuk pensucian diri.


12 comments:

  1. Mauliate
    sian hami parlapo - forum Toga simamora
    www.togasimamora.ucoz.org
    unag lupa ro tulapo nami da, alai molo tuak nunga habis kede

    BalasHapus
  2. Nga adong tuak i bo... asa ro au tu lapo

    BalasHapus
  3. mauliate ma di hita sudena ale hurang lengkap do pe nang sejarah ni marganta.dang na sian op ta toga simamora do tahe...??
    mauliate...jadi hupangidohon nami ma asa lengkap sudena sejarah nta i asa boi jolma pe mamboto dohot angka ianakhon ta tu joloan ni ari on..

    BalasHapus
  4. rap mangurupi ma hita akka pinopparna....

    BalasHapus
  5. Setuju do au tU hamu ito Dina.. :D

    BalasHapus
  6. Aru Beretta SimatUpang setuju, Lamma au.. hehee :D :D :D

    BalasHapus
  7. HORAS....
    Adong hubege namandok dohot do SUMERHAM/RAMBE anak ni SIMAMORA. jd dng holan Natoluon (PURBA, MANALU, DEBATARAJA) alai opat dohot Rambe i.
    Minta tolong jo au asa lehon hamu jo penjelasan nadisertai bukti taringot tu si.
    Mauliate

    BalasHapus
  8. 18-10-2012 Mangampin Simamora
    Horas........
    Pertam-tama kita salut dan terimakasih atas tulisan asal usul marga Simamora dan benar sampai sekarang penyebutan selalu Sihombing-Simamora dan menurut silsilah diatas maka diketahui Simamora-Sihombing. Mudah2an penyebutan itu dapat disampaikan dengan yang sebenarnya.Selai itu juga kami sangat setuju bila ada lagi tulisan selanjutnya tentang Pomparan Sumerham/Rambe dengan Toga Simamora yang lengkap dengan argumennya agar lebih terang berderang namardongan tubu. Mauliate......

    BalasHapus
  9. Salam Sejahtera bagi kita semua. Saya sangat tertarik atas artikel di atas, karena kebetulan saya lahir di Tipang. Ada beberapa hal yang mungkin perlu kita luruskan dan sampai sekarang juga masih menjadi pertanyaan bagi saya.
    1. Terkait dengan pernyataan bahwa Tipang merupakan Bona Pasogit Si Raja Sumba, perlu kita luruskan.
    Menurut kisah yang saya dengar dan sampai sekarang masih diakui penduduk Tipang sampai saat ini, Toga Simamora dan Toga Sihombing bermukim di Tipang bukanlah karena tanah tersebut merupakan warisan dari Ompu kita Si Raja Sumba, tetapi adalah merupakan Ulos So Raburuk yang diberikan oleh Ompu kita juga Si Raja Lontung kepada burunya yang penyebutannya menurut versi mereka Sihombing- Simamora. Secara keturunan Simamora adalah anak pertama dan sihombng adalah anak kedua. Namun karena Toga Sihombinglah yang menjadi hela pertama maka penyebutan mereka menjadi Sihombing Simamora.
    Menurut kisahnya dan juga menjadi pegangan penduduk Tipang, tanah Tipang adalah wilayah lembah yang berbatasan dengan Bakara dan Janjiraja dan kawasan yang berada di atas gunung yang berbatasan dengan tanah Toga Marbun sampai ke Ulu Darat. Di Ulu darat berbatasan dengan Kampung Si Raja Lontung. Konon katanya walaupun sudah tidak berpenghuni, namun kampung itu terlihat masih terawat. Memang pernah juga saya dengar bahwa kampung itu akan di pugar oleh keturunan Si Raja Lontung. Terkait dengan tanah yang dibagian gunung, sampai sekarang masih menjadi perseolan antara keturunan Simamora/Sihombing dengan keturunan Si Raja Lontung yang bemukim di Janjiraja. Mereka mengatakan bahwa tanah tersebut tidak ikut diberikan oleh Ompu kita Si Raja Lontung kepada Borunya.
    2. Sampai sekarang tanah bagian atas yang di daerah gunung masih bersifat status quo sehingga pengelolaannya sementara dihentikan, walaupun dulunya keturunan Toga Simmamora dan Sihombing telah membuat perkampung di daerah tersebut, termasuk nenek moyang saya (5/6) pada generasi 5/6 dari saya.

    BalasHapus
  10. cerita yang membingungkan.

    Menulis cerita sejarah hendaknya melalui sebuah penelitian.

    blog ini membingungkan saya.
    Bagaimana tidak

    pada cerita sejarah di atas diceritakan bahwa Raja Sumba adalah menantu dari Si Raja Lottung karena Raja Sumba menikahi Boru Pandan Nauli, yaitu putri dari Raja Lontung

    berikut kutipan cerita diatas

    Raja Sumba (yang digelari sebagai Sumba Napaduahon) yang merupakan salah satu anak dari Ompu Tuan Sorba Dibanua yang delapan orang itu. Setelah menikahi Boru Pandan Nauli, yaitu putri dari Raja Lontung dari negeri Sabulan

    perhatikan kalimat ini
    -Setelah menikahi Boru Pandan Nauli, yaitu putri dari Raja Lontung-

    Sementara

    Pada cerita sejarah marga batak di blog ini yg saya kutip tentang Si Raja Lottung memiliki dua orang menantu,yaitu Sihombing dan Simamora

    Si Raja Lontung
    Putra pertama dari Tuan Sariburaja Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri yaitu:
    Putra:
    1. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang.
    2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga.
    3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan.
    4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan.
    5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang.
    6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang.
    7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar.
    Putri :
    1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing.
    2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora.
    Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora. (Si sia Marina artinnya Sembilan Satu Ibu)


    Menurut penulis Di Blog ini Mana yg benar
    Raja Sumbakah yg jadi menantu dari Si Raja Lontung Atau Sihombing Simamora.


    Mohon pencerahan nya

    BalasHapus
  11. mauliate ma di hamu ekafrayer86@nokiamail.com pekan baru

    BalasHapus
  12. Buat Starlife, Salam sejahtera.
    Terkait dengan pertalian sejarah antara si Raja Lontung dengan Sihombing-Simamora, kalau kita baca, memang ada berbagai versi. Ada yang mengatakan bahwa yang menjadi hela dari Ompu i Si Raja Lontung adalah si Raja Sumba, Namun menurut yang saya dengar dari orang-orang tua dulu adalah bahwa yang menjadi menantu dari Ompui Si Raja Lontung adalah Sihombing dan Simamora. Sesuai penuturan mereka, boru dari Si Raja Lontung hanya satu orang. Sang putri menikah dengan Toga Sihombing dan dikarunia anak laki-laki sebanyak 4 orang, yaitu Silaban, Lumban Toruan, Nababan dan Huta Soit (semuanya bergelar Borsak). Sang putri dalam pernikahannya dengan Toga Sihombing digelari (dinamai) Si Boru Amak Pandan (bukan Anak Pandan) dan nama itulah dulu yang menjadi nama Kampung mereka, yaitu Kampung Tipang yang kita kenal sekarang. Dalam penuturan orang-orang tua, banyak juga yang menyebut Sang potri sebagai Pandan Nauli, hal tersebut juga terkait dengan gelar Sang Putri, yaitu Si Boru Amak Pandan Nauli. Jadi sesiao penuturan orang-orang tua, Si Boru Amak Panda adalah sama dengan Pandan Nauli.
    Kemudian, berhubung Toga Sihombing meninggal dunia, maka sesuai dengan kebiasaan nenek moyang kita dulu, bilamana anak-anak yang ditinggal masih kecil, maka saudara dari dari Toga Sihombinglah yang berkewajiban untuk memelihara anak-anak tersebut. Karena saudara dari Toga Sihombing hanya satu orang, yaitu Toga Simamora, maka beliaulah yang berkewajiban untuk melanjutkan pemeliharaan anak-anak tersebut atau disebut pagodangkon. Kemudian lahirlah 3 orang anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Dalam pernikahannya dengan Toga Simamora, Sang putri digelari sebagai Siboru Panggabean.

    BalasHapus

Mohon tinggalkan komentar terbaik anda, kiranya dapat membatu untuk membangun blogsite ini !