Berita Terbaru :

Free to Download Mp3 Batak

Anda tertarik dengan lagu-lagu batak berformat mp3? Silahkan kunjungi web ini dan dapatkan lagu mp3 batak yang disusun berdasarkan albumnya secara gratis, langsung download aja dan mainkan lagunya.

Pulo Simamora

Under construction

Bakkara

Under construction

Pulo Simamora

Under construction

Tipang

Under construction

Kamis, 24 Mei 2012

Perkawinan Yang Dilarang Dalam Adat Batak Toba

Perkawinan bagi masyarakat Batak khususnya orang Toba adalah hal yang wajib untuk dilaksanakan, dengan menjalankan sejumlah ritual perkawinan adat Batak. Meski memiliki keunikan dan ragam keistimewaan yang terkandung dalam acara tersebut, upacara perkawinan adat Batak Toba juga terkenal sangat “merepotkan” jika kita bandingkan dengan upacara perkawinan di daerah lainnya di Indonesia.

Dalam perkawaninan adat Batak Toba juga ada aturan-aturan tertentu yang harus ditaati, dan hukumannya sangat tegas yang dianut oleh orang Batak sejak dulu kala. Dibeberapa daerah dan aturan yang berlaku yang dilaksankan oleh penatua masing-masing daerah berbeda-beda, ada yang dibakar hidup-hidup, dipasung, dan buang atau diusi dari kampung serta dicoret dari tatanan silsilah keluarga. Meskipun era saat ini beberapa aturan yang diberlakukan sejak dahulu kala, sebagian orang Batak kini sudah ada melanggarnya.

Berikut ini ada 5 Larangan dalam Perkawinan Adat Batak Toba : 

1. Namarpandan

Namarpadan/ padan atau ikrar janji yang sudah ditetapkan oleh marga-marga tertentu, dimana antara laki-laki dan perempuan tidak bisa saling menikah yang padan marga. Misalnya marga-marga berikut ini:
  1. Hutabarat dan Silaban Sitio
  2. Manullang dan Panjaitan
  3. Sinambela dan Panjaitan
  4. Sibuea dan Panjaitan
  5. Sitorus dan Hutajulu (termasuk Hutahaean, Aruan)
  6. Sitorus Pane dan Nababan
  7. Naibaho dan Lumbantoruan
  8. Silalahi dan Tampubolon
  9. Sihotang dan Toga Marbun (termasuk Lumbanbatu, Lumbangaol, Banjarnahor)
  10. Manalu dan Banjarnahor
  11. Simanungkalit dan Banjarnahor
  12. Simamora Debataraja dan Manurung
  13. Simamora Debataraja dan Lumbangaol
  14. Nainggolan dan Siregar
  15. Tampubolon dan Sitompul
  16. Pangaribuan dan Hutapea
  17. Purba dan Lumbanbatu
  18. Pasaribu dan Damanik
  19. Sinaga Bonor Suhutnihuta dan Situmorang Suhutnihuta
  20. Sinaga Bonor Suhutnihuta dan Pandeangan Suhutnihuta 

2. Namarito

Namarito (ito), atau bersaudara laki-laki dan perempuan khusunya oleh marga yang dinyatakan sama sangat dilarang untuk saling menikahi. Umpamanya seperti parsadaan Parna (kumpulan Parna), sebanyak 66 marga yang terdapat dalam persatuan PARNA. Masih ingat dengan legenda Batak “Tungkot Tunggal Panaluan“? Ya, disana diceritakan tentang pantangan bagi orangtua yang memiliki anak “Linduak” kembar laki-laki dan perempuan. Anak “Linduak” adalah aib bagi orang Batak, dan agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, kedua anak kembar tersebut dipisahkan dan dirahasiakan tentang kebeadaan mereka, agar tidak terjadi perkawinan saudara kandung sendiri.


3. Dua Punggu Saparihotan

Dua Punggu Saparihotan artinya adalah tidak diperkenankan melangsungkan perkawinan antara saudara abang atau adik laki-laki marga A dengan saudara kakak atau adik perempuan istri dari marga A tersebut. Artinya kakak beradik laki-laki memiliki istri yang ber-kakak/ adik kandung, atau 2 orang kakak beradik kandung memiliki mertua yang sama.


4. Pariban Na So Boi Olion

Ternyata ada Pariban yang tidak bisa saling menikah, siapa dia sebenarnya? Bagi orang Batak aturan/ ruhut adat Batak ada dua jenis untuk kategori Pariban Na So Boi Olion, yang pertama adalah Pariban kandung hanya dibenarkan “Jadian” atau menikah dengan satu Pariban saja. Misalnya 2 orang laki-laki bersaudara kandung memiliki 5 orang perempuan Pariban kandung, yang dibenarkan untuk dinikahi adalah hanya salah satu dari mereka, tidak bisa keduanya menikahi pariban-paribannya. Yang kedua adalah Pariban kandung/ atau tidak yang berasal dari marga anak perempuan dari marga dari ibu dari ibu kandung kita sendiri. Jika ibu yang melahirkan ibu kita ber marga A, perempuan bermarga A baik keluarga dekat atau tidak, tidak diperbolehkan saling menikah.


5. Marboru Namboru/ Nioli Anak Ni Tulang

Larangan berikutnya adalah jika laki-laki menikahi boru (anak perempuan ) dari Namboru kandung dan sebaliknya, jika seorang perempuan tidak bisa menikahi anak laki-laki dari Tulang kandungnya.


Minggu, 29 April 2012

Legenda Si Raja Lontung

Dari beberapa artikel atau tulisan yang pernah penulis baca, ada beragam versi cerita tentang SI RAJA LONTUNG, namun pada dasarnya hampir bersamaan hanya peletakan ataupun urutan dalam "tarombo" atau silsilah yang ada perbedaan. Berikut ini adalah kisah atau legendanya :

Si RAJA BATAK mempunyai 2 (dua) orang keturunan,  yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Sumba (Isumbaon). Selanjutnya dari keturunannya Guru Tatea Bulan ini mempunyai 5 (lima) putra dan 4 (empat)  putri yaitu :
  1. Raja Biak-biak (putra)
  2. Tuan Saribu Raja (putra)
  3. Siboru pareme (putri)
  4. Limbong Mulana (putra)
  5. Siboru Paromas (putri)
  6. Sagala Raja (putra)
  7. Siboru Biding Laut (putri)
  8. Malau Raja (putra)
  9. Nan Tinjo (putri)
Setelah putra - putri dari Raja Isumbaon bertumbuh dewasa, serta masih langkanya manusia maupun tempat tinggal yang terisolasi antara satu perkampungan dengan perkampungan lain sangat jauh, tanpa disadari menyebabkan terjadinya hubungan INCEST (perkawinan satu darah). Hubungan atau perkawinan incest ini terjadi antara Tuan Saribu Raja dengan Si Boru Pareme.

Setelah sekian lama hubungan ini terjadi menjadikan Si Boru Pareme mengandung/ hamil dan hal ini menjadikan aib dalam keluarga turunan Raja Isumbaon. Dalam adat dan kebudayaan Batak hal ini adalah TABU dan DILARANG KERAS, maka hukumannya adalah MATI.

Melihat aib ini saudara/ saudari dari Tuan Saribu Raja dan Si Boru Pareme merasa marah dan berniat untuk menghukum mati kedua saudara/i nya itu. Namum ternyata tak satupun dari mereka yang mampu/ tega untuk menghukum mati. Akhirnya di putuskanlah untuk membuang mereka ke hutan secara terpisah.

Si Boru Pareme pun dibuang ke sebuah hutan di atas Sabulan sekarang, satu daerah yang dianggap sebagai sarang harimau. Biarlah harimau itu yang membunuhnya, kalau tidak mati akibat kelaparan dan deritanya sendiri, begitulah pikiran Limbong Mulana dan adik-adiknya.

Suatu ketika, Siboru Pareme yang sudah hamil tua dan kesepian ini, dikejutkan oleh seekor harimau yang mengaum mendekatinya. Namun karena sudah terbiasa melihat harimau dan penderitaan yang dialaminya, ia tidak takut lagi dan pasrah untuk di mangsa. Setelah menunggu beberapa saat, ternyata harimau itu tidak memangsanya. Harimau tadi membuka mulutnya lebar-lebar dihadapan Siboru Pareme seakan meminta bantuan. Dari jarak dekat Siboru Pareme melihat ada sepotong tulang yang tertancap di rahang harimau itu. Timbul rasa iba dihati Siboru Pareme. Tanpa ragu Siboru Pareme mencabut potongan tulang itu dan di buangnya. Setelah itu harimau yg dikenal buas itu menjadi jinak kepada Siboru Pareme. Sejak itu harimau yang dikenal BABIAT SITELPANG setiap pagi dan sore mengantar daging hasil buruannya ketempat Siboru Pareme. Budi baik yang diterimanya dari wanita yang sedang hamil tua itu menumbuhkan rasa sayang BABIAT SITELPANG yang diwujudkannya dengan tetap menjaganya hingga melahirkan seorang putra dan diberilah namanya SI RAJA LONTUNG.

Si Raja Lontung hidup dan bertumbuh dewasa bersama ibunya ditengah hutan sekitar Ulu Darat selalu didampingi oleh BABIAT SITELPANG. Tidak seorang pun manusia lain yang mereka kenal. Namun Siboru Pareme selalu memberi pengetahuan kemasyarakatan kepada anaknya termasuk partuturan adat batak karena ibunya tidak ingin anaknya itu menderita lagi seperti aib yang diterimanya selama ini.

Setelah SIRAJA LONTUNG beranjak dewasa dan sudah bisa menikah, ia bertanya kepada ibunya di mana kampung tulangnya. Ia sangat berniat menikah dengan putri tulangnya (paribannya). Siboru Pareme merasa sedih mendengar hal itu, hatinya gusar, kalau diberitahu yang sebenarnya. Ia takut tulangnya akan membuang dan membunuh anaknya itu, Siboru Pareme selalu berupaya mengelak dari pertanyaan anaknya. 

Namun karena tidak ingin anaknya menjadi korban kemarahan tulangnya dan Siboru Pareme yakin dan tahu bahwa Si Raja Lontung tidak dapat menemukan seorang perempuan jadi isterinya di hutan itu, niscaya dia akan mati lajang tanpa keturunan, ia pun mengorbankan dirinya untuk dikawini anak kandungnya sendiri, akhirnya Siboru Pareme membuat siasat. 

Pada satu saat yang baik Siboru Pareme menyerahkan cincinnya pada Si Raja Lontung dengan pesan "Pergilah ke tepian yang ada di kejauhan sana. Tunggulah disana hingga paribanmu turun mengambil air. Dia mirip sekali dengan saya hingga sulit dibedakan. Pasangkan cincin ini pada jarinya dan cincin ini pun harus pas betul. Bila hal ini telah terbukti bujuklah dia menjadi isterimu". Selanjutnya Siboru pareme menerengkan jalan berliku yang harus ditempuh anaknya. 

Si Raja Lontung pun berangkat menapaki jalan berliku seperti yang telah dirunjuki oleh ibunya. Sementara itu si Boru Pareme pun bernagkat ke tepian yang sama. Dia mengambil jalan pintas agar dapat mendahului anaknya. Setibanya disana dia pun mendandani dirinya sedemikian rupa hingga nampak lain dan lebih muda. pada hari anaknya tiba, dia sudah siap.


Si Raja Lontung pun tiba di tempat seperti yang dipesankan ibunya itu. Ia mendengar ada manusia tengah mandi di pansuran itu. “Berarti benar apa yang diberitahu ibuku”, katanya dalam hati, sambil mengintip dari celah-celah pohon. Ia tidak sabar terlalu lama lagi, karena hari sudah gelap dan langsung menghampiri perempuan tersebut.

“Bah benar juga yg dibilang ibuku, tidak ada ubahnya seperti dia”, katanya dalam hati. “Santabi boru ni tulang, saya ingin menyampaikan pesan ibuku”, kata Si Raja Lontung dan menggapai tangan perempuan itu serta meremas jemari perempuan yang disebut paribannya itu, dan menyelipkan cincin ibunya ke jari manis dan ternyata pas. “Berarti tidak salah lagi, kaulah paribanku itu. Wajahmu seperti ibuku dan cincin ibuku cocok dijari manismu,” lanjutnya merasa yakin. Lalu ia mengajak perempuan tersebut untuk dijadikan istrinya dan memperkenalkannya kepada ibunya.

Sesampainya di hutan tempat tinggal SIRAJA LONTUNG, ia terkejut sebab ibunya tidak lagi di jumpai di rumahnya. Ia pun teringat akan pesan ibunya yang berniat mencari ayahnya SARIBU RAJA kearah Barus. Keduanya hidup serumah dan menjadi suami istri, (maka bagi Si Boru Pareme terjadi lagi kawin sumbang atau INCEST yang kedua kali).

Dari hasil perkawinan Si Raja Lontung dan Si Boru Pareme melahirkan turunan sebagai berikut :
  1. Ompu Tuan Situmorang (putra)
  2. Sinaga Raja (putra)
  3. Pandiangan (putra)
  4. Nainggolan (putra)
  5. Simatupang (putra)
  6. Aritonang (putra)
  7. Siregar (putra)
  8. Siboru Amak Pandan (putri) kawin dengan Sihombing dan
  9. Siboru Panggabean (putri) kawin dengan SIMAMORA.
Ketujuh putra ini kemudian menurunkan marga-marga berikutnya. satu hal yang unik ialah bahwa ketujuh marga Lontung ini tidak merasa puas bila tidak menyertakan kedua boru itu dalam bilangan dan kelompoknya. Inilah cikal bakal sebutan “Lontung Sisia Sada Ina Pasia Boruna Sihombing - SIMAMORA. Kalau dari Si Raja Lontung (namarpariban), maka Sihombing lebih tua, tetapi karena Simamora dan Sihombing abang-adik kandung, maka Simamora lah yang tertua.


Sabtu, 14 April 2012

Legenda Simamora Naoto (Ditabunihon Sira tu Aek)

Pada zaman dahulu SIMAMORA terkenal sebagai pedagang garam. Ia sering bepergian untuk waktu yang lama meninggalkan keluarganya untuk berdagang garam. Garam - garam ini diambilnya pesisir barat Sumatera untuk dijualnya ke beberapa pasar yang dilaluinya seperti Pahae, Sipirok, Silindung, Doloksanggul dan jika dagangan masih tersisa, ia akan menjualnya di Bakkara di pinggir Danau Toba. Bakul tempat garamnya diletakkan di atas kuda beban yang menjadi tunggangannya.

Simamora adalah orang yang ramah, dan jujur dalam berdagang. Banyak dari orang – orang yang bertemu dengan dia merasa senang berdagang kepadanya. Oleh karena itu, Simamora punya banyak langganan dan kenalan.

Berdagang garam tidaklah selalu mudah. Hujan menjadi masalah yang paling utama. Ketika hujan turun, kuda – kuda akan menjadi bebal dan tidak mau melanjutkan perjalanan. Dan bakul tempat garam pun tidaklah cukup bagus. Bakul itu terbuat dari anyaman daun kelapa sehingga kurang aman dari air. Kalau sudah begini, Simamora biasanya harus menginap di rumah – rumah warga di kampung yang dilaluinya.

Suatu hari, Simamora bertemu dengan dua orang yang sama – sama berdagang garam. Seiring berjalan waktu, ia semakin kompak dengan keduanya dan sering pergi berjualan bersama. Simamora sendiri merasa beruntung mempunyai teman berdagang, selain dia punya teman untuk diajak bicara selama perjalanan, ia juga merasa terbantu untuk hal lain. Terkadang jika musim hujan tiba, sungai – sungai meluap. Untuk menyebrangi sungai, mereka harus menarik kuda beban karena kuda tidak mau menyebrangi sungai. Terkadang kuda ini sangat bebal sehingga harus ditarik oleh dua orang atau lebih.

Sepanjang perjalanan, Simamora mendapat pelanggan lebih banyak dari kedua rekannya, karena Simamora dianggap orangnya lebih jujur dan jualannya juga tidak terlalu mahal. Hal ini mengundang kecemburuan bagi kedua rekannya. Sering keduanya menggerutu karena tidak mendapat pelanggan. Terkadang mereka harus menunggu sampai dagangan simamora habis, baru mereka kebagian pelanggan.

Kekesalan ini semakin memuncak sampai suatu ketika mereka merencanakan untuk memberi Simamora pelajaran.

Pada suatu sore, Simamora bersama kedua rekannya terpaksa menginap di warung kopi di satu desa sebelum masuk pasar Doloksanggul karena hujan sedang turun. Warung itu kosong pada malam hari. Pemiliknya tinggal di kampung lain, agak jauh dari tempat itu. Setelah bakul garam diturunkan dari punggung kuda, mereka menambatkan kuda-kudanya di dekat rerumputan sekitar warung. Mereka bercengkrama sambil melinting tongkol jagung yang dijadikan rokok.

Kedua rekannya yang sudah lama mencari kesempatan untuk mencelakai Simamora merasa kalau inilah waktunya untuk memberinya pelajaran. Mereka berencana untuk mencuri kuda dan garam – garam Simamora selagi dia tidur. Dengan demikian, ia tidak bisa berjualan garam lagi. Berkuranglah saingan.

Malamnya, kedua rekannya itu menyarankan agar sebaiknya mereka bergantian jaga. Dua orang tidur sedangkan seorang lagi jaga. Demikian lah bergantian hingga pagi tiba.

“Apa perlu begini ? Toh, selama ini juga tidak pernah terjadi apa-apa” kata Simamora.

“Itu tidak menjamin kalau disini aman selamanya.” Jawab mereka.

“Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyembunyikan garam masing-masing.” Usul Simamora.

“Dimanapun kau menyembunyikannya, garammu pasti bisa ditemukan di warung yang sekecil ini.”

“Tidak mungkin bisa ditemukan.” Jamin Simamora.

“Aku tidak yakin. Bagaimana kalau aku bisa menemukan garammu?” Tanya seorang.

“Garamku menjadi milik kalian.”

“Kalau tidak ?” Tanya seorang lagi.

“Garam kalian menjadi milikku.”

“Baik.” Ketiganya pun sepakat. “Sembunyikanlah garammu.” Kata mereka.

Lalu simamora pergi membawa garamnya. Tidak sampai dua menit ia sudah kembali. Kedua rekannya lalu menyalaminya tanda perjanjian sah.

“Bagaimana kalau kuda kita pertaruhkan juga?” Usul mereka berdua karena merasa yakin garam tersebut tidak jauh disembunyikan mengingat waktu yang diambil Simamora tidak lama.

“Boleh juga” tantang Simamora

“Baiklah” sambut mereka.

Malam itu Simamora tidur dengan lelapnya. Seperti tidak ada yang sedang dipikirkannya. Berbeda dengan kedua rekannya yang tidak sabar menunggu pagi tiba. Mereka yakin sekali garam itu disembunyikan di dapur. Mereka ingin sekali langsung mencari garam tersebut dan membawa kuda Simamora pergi. Tapi mereka harus berlaku adil sesuai perjanjian.

Pagi – pagi benar mereka sudah bangun. Ingin rasanya cepat – cepat menemukan garam tersebut. Akan tetapi untuk menunjukkan kalau mereka berlaku adil, mereka menunggu hingga Simamora bangun. Setelah simamora bangun, ketiganya melinting rokok. Lalu masing – masing menikmatinya tanpa ada yang berselera memulai bicara. Rokok semakin pendek dan setelah api rokok menyentuh jari, keduanya mengingatkan simamora tentang kesepakatan mereka.

“Silahkan cari.” Kata simamora singkat.

“Sebaiknya kita naikkan dulu beban kuda kita.” Kata seorang

“Bagus juga.” Balas yang seorang lagi. “Kuda yang ketiga tinggal dimuat lalu dituntun.”

“Aku khawatir kalian tidak kembali lagi karena malu.” Simamora tersenyum simpul.

Keduanya tidak menjawab. Mereka langsung bergegas. Mereka memulainya dengan menyisir dapur, sekitar rumah, hingga kebun. Dapur penuh dengan barang – barang yang ditumpuk begitu saja. Ternyata tidak ada. Di kebun, sekitar sumur hingga sekitar kampung juga tidak ada. Mereka kembali ke dapur membongkar barang-barang yang ditumpuk. Tetapi tetap tidak ketemu.

“Dua menit. Mungkinkah keluar kampung?” Tanya yang satu.

“Kalau berlari, bisa juga…” sahut yang satu sambil menggaruk – garuk kepalanya.

Lalu mereka memeriksa bambu bambu pembatas kampung. Tetapi tetap saja tidak ada. Semak belukar, tumpukan sampah juga tidak lepas dari penggeledahan mereka. Tanpa disadari mereka sudah cukup jauh keluar dari desa.

Setelah menunggu cukup lama, Simamora memeriksa. Tetapi rekannya belum kembali juga. Hanya ada tukang warung yang baru sampai dan sedang menjerangkan air dari sumur. Si Tukang warung merasa heran melihat banyaknya barang yang berantakan di dapur. Sebelum ia sempat menanyakan tentang barang – barang tersebut, Simamora telah pergi membawa kedua kuda dan garam – garam rekannya itu.

Walau kaget dengan kondisi dapur yang berantakan, si pemilik warung tidak langsung memeriksanya. Ia terlebih dahulu menjerangkan air karena pagi – pagi biasanya banyak pengunjung yang ingin minum kopi. Tukang warung memeriksa dapur yang diobrak – abrik entah oleh siapa. Dan entah untuk apa. Ia tidak melihat adanya barang – barang yang hilang. Untuk memastikan perasaannya, ia menghitung seluruh jumlah karung padi di lumbung, kemudian alat – alat pertanian, tidak ada yang hilang. Sambil mengira – ngira apa yang telah terjadi, ia merapikan barangnya.

Air telah mendidih dan dia segera melayani langganannya. Tanpa menceritakan kejadian di dapurnya. Tak lama kedua pedagang yang kalah taruhan telah kembali. Mereka mendapati kalau Simamora sudah pergi bersama kuda – kuda dan keempat bakul garam yang telah dimenangkannya.

Saat itu di warung sedang ada desas desus antara pengunjung. Keduanya yang tidak tahu apa yang sedang terjadi tidak terlalu memperdulikannya.

“Kopi dua !” pesan mereka.

Tak lama berselang seseorang diantara pengunjung angkat bicara.

“Koq kopinya asin?” katanya

Kedua pedagang yang mendengar hal itu saling berpandangan. Seperti akan mengatakan sesuatu. Buru – buru keduanya mencicipi kopi mereka.

“Benar ! Kopinya asin !”

“Sungguh, disini tidak ada tempat garam.” Kata yang punya warung. “Gelas dan sendok sudah saya cuci. Mana mungkin bisa asin?”

“Jangan – jangan…” gumam seorang pedagang itu.

“Jangan – jangan simamora menyembunyikan garam di dalam sumur !”

Keduanya langsung melompat dari tempat duduknya dan memeriksa sumur di belakang warung. Galah dijulurkan ke dalam dan dua buah bakul berhasil diangkat dari dalam. Warga di sekitar mengenali bakul tersebut sebagai bakul garam yang biasa dibawa Simamora.

“Lihat !” Kata salah satu pedagang tersebut. “Ini bakul Simamora. Dia benar – benar bodoh, menyembunyikan garam di dalam sumur.”

“Kenapa ?” Tanya seorang dari kerumunan itu.

“Karena dia takut garamnya dicuri orang.” Jawab rekan pedagang itu.

“Bodoh benar (oto ma i)” piker orang – orang di warung itu.

“Memang bodoh” ucap kedua pedagang itu. Mereka melakukannya untuk menyembunyikan kemalangan mereka yang telah kalah taruhan.

Berita tentang garam masuk sumur ini langsung cepat menyebar. Kedua pedagang ini juga menceritakan tentang “simamora yang bodoh” (Simamora na oto) kepada setiap orang yang ditemuinya. Namun tidak pernah menceritakan bahwa Simamora yang membodohi mereka.

 
SIMAMORA DEBATARAJA

Jumat, 06 April 2012

Legenda Siboru Namotung (Sibottar Mudar)

Seperti yang kita ketahui bahwa Raja Simamora memiilki 3 anak, yaitu Purba, Manalu dan Debataraja. Sedangkan Debataraja sendiri juga memiliki 3 orang anak, yaitu Sampe tua, Babiat Nainggol, dan Marbulang serta 1 orang putri (boru)  yaitu Siboru Namotung (Sibottar Mudar). Lihat tarombo Simamora

Pada awalnya, mereka tinggal di Samosir, namun karena kemiskinnya (hapogoson)  mereka pergi ke Bakkara, disana Siboru Namotung bertemu dan disukai oleh Hamang (sejenis begu) tanpa wujud dan hanya pada malam hari kelihatan. Lalu Hamang pun melamarnya dan minta izin kepada ketiga saudaranya itu, ternyata mereka setuju untuk menikahkan asalkan Hamang bersedia membuat pesta besar untuk pernikahan itu. Alhasil, dibuatlah pesta yang sangat besar, namun memang terasa ada keanehan, karena sebagian orang tidak terlihat di pesta itu.

Setelah sekian lama, ada seorang Raja Barus bermarga Pasaribu hendak mencarikan seorang menantu untuk anaknya, maka sang rajapun menerbangkan sebuah layang-layang dan bersabda "barang siapa yang menemukan layang-layang itu bila perempuan akan kujadikan menantu dan bila lelaki akan kujadikan anak". Setelah layang-layang diterbangkan maka sang rajapun menyuruh bawahannya untuk melacak siapa gerangan yang akan menemukannya. 

Sekian lama pencarian kemana arah terbangnya layang-layang tersebut dan siapa yang menemukannya, ternyata layang-layang itu secara tidak sengaja ditemukan oleh Siboru Namotung (br Simamora). Maka sesuai dengan janji dan sabda Raja Barus itu, iapun berencana untuk menikahkan anaknya dengan boru simamora tersebut dan berangkatlah raja tersebut ke Bakkara untuk menjumpai keluarga boru simamora itu untuk melamarnya dan menjadikannya menantu.

Setelah Raja Barus (Pasaribu) berjumpa dengan ketiga saudara Siboru Namotung, iapun menyampaikan niatnya itu, namun tidak seperti yang diharapkannya ternyata Siboru Simamora itu sudah menikah. 

Pada saat pembicaraan itu Si Marbulang tidak setuju atau merasa keberatan kalau saudarinya itu dinikahkan lagi karena ia tahu saudarinya (itonya) itu sudah menikah dengan Hamang, sedangkan Sampe tua merasa tiada guna bersaudara dengan makhluk yang tidak kelihatan yang tidak jelas wujud dan rimbanya sedangkan Babiat Nainggol masih merasa ragu akan pilihannya. Pada akhirnya Raja Barus memaksakan untuk melamarnya dan siboru namotungpun dibawa ke Barus untuk dinikahkan dengan anaknya.

Mendengar kabar itu Hamang marah dan pergi mengejar Raja Pasaribu itu untuk mengambil kembali istrinya. Merekapun bertemu pada saat hendak menyeberangi sungai dan di sungai itu mereka bertengkar memperebutkan siboru namotung ( boru simamora) itu. Mereka saling unjuk kemampuan dan laga ilmu, maka sang Hamangpun mengeluarkan kemampuannya dan berkata "kalau bisa kau angkat istriku itu dari air ini silahkan bawa tetapi kalau tidak bisa silahkan tinggalkan tempat ini!", Raja Barus mencoba untuk menariknya namun ternyata siboru simamora tidak bisa lagi digerakkan sama sekali, tanpa panjang pikir Raja Barus itu mengeluarkan pedangnya dan memenggal kepala siboru namotung hingga putus konon katanya darah yang keluar dari leher siboru simamora itu berwarna putih itu sebabnya ia digelari Siboru Namotung atau Sibottar Mudar, dan ia pun membawa kepala tersebut kembali ke kampungnya di Barus. 

Melihat kejadian itu Hamangpun merasa kecewa dan sedih setelah melihat istrinya telah meninggal dibuat Raja Barus tersebut dan membiarkan sisa potongan tubuhnya terhanyut di sungai itu. Hamang dengan amarahnya menjumpai ketiga saudara boru simamora itu dan mengutuknya bahwa ketiga saudara itu akan susah punya keturunan sesuai dengan tingkatan kesalahan yang mereka perbuat kepada Hamang.

Setelah Raja Pasaribu sampai di kampungnya, ia pun menyuruh anak buahnya untuk mencari sisa potongan tubuh boru simamora itu ke sungai itu. dan ternyata mereka menemukannya masih terhanyut disungai dan membawakannya kembali ke raja tersebut. Potongan tubuh boru simamora itu yang sudah berhari-hari mati disatukannya kembali dan disemayamkan dalam sebuah ruangan khusus. Menurut ceritanya tubuh boru simamora itu dapat bersatu dan kembali hidup. itulah sebabnya ada sebahagian marga pasaribu (marga pasaribu yang dari Barus) memanggil Tulang kepada marga Simamora Debataraja.

wah....wah....unik nih ceritanya.

Annie Bertha Simamora - Wartawati senior


Wartawati senior, Annie Bertha Simamora, yang dikenal kritis dalam sejumlah tulisan dan pandangannya meninggal dunia pada usia 62 tahun di Rumah Sakit Mitra Keluarga Internasional, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin 11/8/03 pukul 11.30. Annie meninggal setelah dua tahun menderita penyakit kanker paru-paru dan sempat dirawat intensif di salah satu rumah sakit di Singapura. Terakhir ia menjabat sebagai anggota Dewan Redaksi Harian Sore Sinar Harapan. Jenazah Annie disemayamkan di rumah duka, yang merupakan tempat tinggalnya selama ini, di Kompleks Dinas Hukum dan Militer (Diskum) Cakrawijaya VI Blok J 11, Cipinang Muara, Jakarta Timur. Sebelum dimakamkan, jenazah Annie dibawa ke Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Marturia, Cipinang Muara, Jakarta Timur. Jenazah Annie dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Pondok Kelapa, Jakarta Timur, hari Selasa 12/0/03 pukul 14.00 WIB. Annie lahir di Luwuk, Sulawesi Selatan, 16 April 1941. Annie bergabung dengan Sinar Harapan sejak 1 Juli 1972. Di rumahnya yang sederhana, Annie memilih tidak menikah dan hanya ditemani seorang pembantu. Anie muda menyelesaikan pendidikan lanjutan atas di Methodist English School, Medan. Ia sempat meneruskan pendidikannya ke Fakultas Publisistik Universitas Indonesia, namun tidak tamat. Sesudah itu, Annie mengecap bermacam ilmu, di antaranya pendidikan sekolah tinggi teologia, komunikasi massa di Berlin Barat, mengikuti pendidikan atas beasiswa Colombo Plan di Australia, dan mengikuti Foreign Journalist Project, di Indiana University, Amerika Serikat. Karir jurnalistik Annie dimulai pada 1960 dengan bergabung bersama Harian Berita Indonesia sebagai reporter. Di harian itu ia bertahan hingga tahun 1964. Pada 1964-1971 ia bergabung bersama Harian Berita Yudha, dan kemudian pada 1971-1972 di Harian Proklamasi.

Sejak 1 Juli 1972 Annie bergabung dengan Harian Sinar Harapan sampai harian itu dibatalkan SIUPP-nya pada 8 Oktober 1986, dan kemudian terbit kembali dengan nama Suara Pembaruan pada 4 Februari 1987. Ia memasuki masa pensiun di Suara Pembaruan pada 1 Mei 1998. Tetapi, Annie tak pernah berhenti berkarya. Ia tetap aktif menulis hingga akhir 2000. Ketika Sinar Harapan terbit kembali pada tahun 2001, Annie pun kembali ke harian itu dengan menduduki posisi Dewan Redaksi.

Selama menjalani tugas jurnalistik, ia lebih banyak bertugas di lingkungan Departemen Luar Negeri. Hal itu membuatnya lebih dikenal luas di kalangan diplomatik Indonesia di luar negeri maupun korps diplomatik asing yang bertugas di Jakarta. Ia juga dikenal dekat dengan pejabat-pejabat penting negeri ini seperti Moerdiono, Mensesneg pada masa Orde Baru. Karena kerap bertemu dengan Moerdiono, ia jadi paham maksud pernyataan presiden yang disampaikan menterinya itu. Namun, sebagai wartawan profesional, ia sering mencari klarifikasi pernyataan Soeharto yang disampaikan melalui Moerdiono. Pengalaman dan pergaulannya sebagai wartawan membuat wawasannya begitu luas. Dengan keluasan wawasannya itu, ia sering diminta memberikan ceramah kepada calon-calon diplomat Indonesia. Gayanya dalam memberi ceramah dan gaya berceritanya selalu menarik perhatian. Annie dikenal sebagai wartawan dengan mobilitas tinggi. Dengan mobilitasnya itu tak heran jika ia susah ditemui di kantor, apalagi di rumah. Ia tak pernah berhenti bergerak. Semua rekan kerjanya menggurauinya lebih hapal ilmu bumi dunia daripada nama-nama kota di Indonesia! Kaki Annie teramat panjang menjangkau negara-negara di Eropa, Amerika, Australia, dan tidak terhitung negara-negara Asia. “Tugas ke luar negeri seperti ke Pasar Baru saja,” rekan-rekan kerja mengibaratkan. Annie mengaku tertarik menjadi wartawan karena profesi ini glamour. Beruntung ia ditempatkan di desk luar negeri, yang dengan begitu ia sering bepergian meninggalkan negeri ini. Tokoh-tokoh politik, diplomat, hingga kepala negara banyak yang mengenalnya dengan baik dan tak segan-segan mengundangnya untuk berkeliling negaranya, atau untuk sekadar makan bersama keluarga. Di setiap pertemuan, ia sangat lincah mengumpulkan informasi dan berita. Dalam konferensi-konferensi pers, baik bertaraf nasional maupun internasional, ia terkenal galak melancarkan pertanyaan bernada jebakan. Annie pula satu-satunya yang berjuang untuk mendapatkan kesempatan bertanya dan mendapat jawaban dari Presiden Bill Clinton, ketika Presiden AS itu berkunjung ke Indonesia. “Masak dia cuma kasih kesempatan kepada wartawan Gedung Putih?” katanya pada saat itu.

Kepergian Annie ternyata membawa duka bagi banyak kalangan. Pada Senin sore sampai malam hari tampak melayat di rumah duka mantan Menlu Mochtar Kusumaatmadja, mantan Menlu Ali Alatas, mantan Menneg KLH Sarwono Kusumaatmadja, pendiri CSIS Hary Tjan Silalahi dan lain-lain. Ketua Umum PWI Pusat, Tarman Azzam dari Lampung mengirimkan SMS ikut berduka cita atas meninggalkan Annie Bertha. Ia mengatakan pers Indonesia kehilangan wartawati yang hebat dan profesional.

Kenangan Sabam Siagian

Wartawan senior Sabam Siagian, mantan Wapemred Sinar Harapan memiliki banyak kenangan terhadap almarhumah. Pada tahun 1976, ASEAN untuk pertama kalinya menyelenggarakan pertemuan puncak antarpemimpin pemerintahan di Bali. Pada saat itu negara anggota ASEAN hanya lima, yakni para pendirinya yang mendirikan organisasi itu pada tahun 1967 di Bangkok. “SH” mengirim tim peliput yang paling besar dibandingkan media lain yang dipimpinnya. Ada Sam Pardede (redaktur luar negeri), alm Soedjono (redaktur ekonomi), juru potret, tenaga administrasi. Tapi anggota tim “SH” yang paling menonjol adalah Annie Bertha yang dikenal sebagai “star reporter”. Jam kerjanya praktis 24 jam. Ketika saya tanya: “Annie Bertha, coba cari tahu latar belakang info yang kita peroleh tentang deklarasi yang akan dikeluarkan pertemuan puncak ini …”, ia segera aktif. Meskipun sudah tengah malam, ia langsung menghubungi Menlu Adam Malik yang dikenalnya secara akrab. Karena sudah tidur, ia bentak ajudannya dan minta sampaikan: “Annie Bertha mau bicara”. Bung Adam memang seorang insan politik, ia suka pada wartawan yang agresif dan khususnya ia punya soft spot pada Annie Bertha. “Ini masih rahasia Annie, jangan paksa saya langgar sumpah jabatan …,” kata Bung Adam, setengah bergurau tapi juga setengah serius “Ah, sama saya kok masih punya rahasia,” dijawab dengan nada agak genit. Alhasil, SH mendapat info yang belum diperoleh koran lain, meskipun tidak dalam bentuk lengkap. Keuletan kerja dan kegesitan naluri jurnalistik merupakan ciri-ciri menonjol dalam profil kepribadian almarhumah. Pada tahun-tahun 1970-an dan 1980-an itu, tidak banyak wartawan wanita yang aktif menonjol di Jakarta. Biasanya yang disebut-sebut hanya empat nama: Annie Bertha Simamora dari “SH”, Threes Nio dari Kompas, Toeti Kakiailatoe dari Mingguan Tempo, dan Ita Samsudin dari Kantor Berita Antara. Kalau mereka jumpa di lapangan dan sama-sama meliput sebuah peristiwa, kadang-kadang timbul korslet. Wartawan pria biasanya minggir mengalah menyaksikan empat primadona itu saling bersaing. PD dan ego kuat agaknya sudah merupakan ciri wartawan yang merasa ulung. Namun pada Annie Bertha sering porsinya agak berlebihan. Dia kesal dan malahan marah kalau beritanya dipotong atau diperbaiki yang menurut dia justru merusak hasil olahannya. Redaktur yang menangani beritanya mesti tabah menampung omelan atau komentar tajam yang datang dari Annie kalau berani mengutik-utik berita yang ditulisnya. Pernah sekali redaktur yang bertugas meneliti beritanya datang ke ruang kerja saya. “Anda saja yang menangani ini. Menurut saya, berita ini tidak logis dan terlalu spekulatif,” Saya baca dan sependapat dengan rekan redaktur itu. Dengan tenang saya menghampiri meja Annie dan meletakkan copy beritanya. “Ini belum bisa dimuat. Cari info pelengkap dan tulis ulang dengan urutan yang logis,” lalu kembali ke ruangan kerja pimpinan.

Ia tidak protes tapi dari rekannya saya dengar betapa dia marah dan ngomel: “Baru kemarin dulu jadi wartawan, mentang-mentang senior, berani tolak berita saya…” Tapi dia juga tahu berterima kasih. Pada tahun 1986, saya ikut tim wartawan yang meliput perjalanan Presiden Soeharto keliling dunia dengan tujuan utama Washington, DC. Saya minta Annie Bertha bertugas ikut meliput kegiatan rombongan Presiden di Washington, DC yang cukup padat. Salah satu acara menarik dan rebutan di kalangan tim wartawan adalah jamuan resmi makan malam di Gedung Putih di mana para pria diwajibkan mengenakan stelan hitam dengan dasi kupu-kupu hitam. Tempat untuk wartawan Indonesia dibatasi. “Anda saja yang ambil oper tempat saya. Protokol Presiden sudah saya beritahu. Mungkin nama dubes AS untuk Indonesia yang baru akan diumumkan oleh Presiden Reagan”. Saya sampaikan pada Annie, laporannya tentang dinner di Gedung Putih menarik, gaya penulisan hidup dengan kepingan info tentang menu, penampilan para tamu dan suasana keseluruhan. Annie terima kasih benar bahwa dia dapat kesempatan itu. Saya tidak katakan bahwa sorenya kebetulan saya jumpa dengan Prof. Widjojo Nitisastro, anggota rombongan Presiden, di lantai pertokoan Hotel Mayflower di mana rombongan menginap. Sambil melihat etalase toko-toko, ia ceritakan sekilas pembicaraan siang harinya dengan para tokoh pemerintahan Presiden Reagan. Saya ingin menulis beritanya malam hari itu. Tanpa menyebut nama sumber dan segera mengirimnya ke Jakarta. Kalau ikut dinner di White House, tidak mungkin lagi, karena besoknya kami meninggalkan Washington, DC.

Setelah Sinar Harapan dibredel secara permanen pada bulan Oktober 1986 dan setelah proses berliku-liku pemerintah menyetujui diterbitkan koran baru Suara Pembaruan sebagian besar redaksi SH bekerja untuk terbitan baru itu. Annie Bertha gabung dengan Suara Pembaruan. Sementara itu saya sudah pindah ke harian The Jakarta Post sebagai penugasan dari penerbit SH juga. Koran berbahasa Inggris itu merupakan usaha bersama dari empat partner.

Sudah jarang kami jumpa. Kalaupun sekali-sekali berpapasan, dia agaknya unhappy tentang berbagai hal. Dia mengeluh tentang pengelolaan harian SP yang dinilainya sebagai tidak profesional. Setelah dipensiunkan dari koran itu, dia juga tidak begitu gairah menulis di sana.

Sementara itu situasi kondisi lingkungan kemasyarakatan dan dunia pers berubah. Generasi baru para wartawan dan wartawati muncul. Kemahiran berbahasa Inggris bukan merupakan monopoli beberapa wartawan saja. Para pelaku di panggung politik, pemerintahan dan swasta baru sama sekali.

Saya akan tetap mengenang Annie Bertha Simamora sebagai seorang rekan yang tidak mengenal lelah dalam menyelesaikan tugasnya. Seorang wartawan yang ulet dan gesit dalam mengejar sumber berita.

Aset ASEAN

Nama Annie pun cukup berkibar di lingkungan ASEAN. Wartawan dari mancanegara banyak yang menanyakannya setelah cukup lama Annie tidak melakukan kegiatan jurnalistik, terutama setelah pensiun dari Suara Pembaruan. Salah seorang wartawan dari Thailand sempat bertanya kepada wartawan Sinar Harapan, ”Anda di Sinar Harapan ya, bagaimana kabarnya dengan Annie, apakah dia masih aktif?” begitulah pertanyaan seorang rekan wartawan Thailand dari harian The Nation ketika bertemu SH di sela-sela Konferensi Tingkat Menteri Asia Europe Meeting (ASEM) di Bali, Juli lalu.

Dia wartawan hebat, pertanyaannya selalu tajam, komentar teman itu. Mungkin dia kehilangan Annie Bertha Simamora, yang dua tahun terakhir ini memang sudah tidak lagi terlalu aktif beredar melakukan tugas-tugas jurnalistik, karena menderita sakit.

Begitulah popularitas seorang Annie Bertha Simamora di kalangan wartawan internasional. Bisa dikatakan, dia adalah aset ASEAN.

Buat dunia pers Indonesia, ini suatu kehilangan besar karena dia salah satu wartawan berkaliber internasional yang dimiliki. Seorang wartawati yang penuh semangat, berdedikasi, dan tidak mau kalah mengejar berita. ”Dia memang luar biasa. Dorongannya untuk mengejar berita sangat mengagumkan,” ujar mantan Menlu, Mochtar Kusumaatmadja, yang datang langsung ke rumah duka di Komplek Diskum AD, Cipinang Muara, Jakarta Timur, tak lama setelah jenazah tiba dari rumah sakit. Bahkan, Mochtar mengakui Annie ikut berperan, meski tidak langsung, dalam banyak proses diplomasi. Pada berbagai kesempatan di forum internasional Annie menjadi ”juru bicara” tak resmi Indonesia. Annie yang patriotik, ikut memberi warna dalam berbagai proses diplomasi Indonesia, sejak zaman Menlu Adam Malik (almarhum), Mochtar Kusumaatmadja dan Ali Alatas, atau hampir tiga dekade, malang melintang sebagai wartawan yang meliput masalah diplomasi.

Ketangguhan dan keuletan Annie dalam mengejar berita banyak diakui wartawan lain. Misalnya, dia secara eksklusif mendapat jawaban langsung dari Presiden Filipina Ferdinand Marcos yang bersedia melepas klaim Manila atas Sabah, di sela-sela KTT ASEAN tahun 1977. Padahal, semua wartawan yang meliput waktu itu juga menunggu jawaban itu dan hanya bisa menyaksikan keberuntungan Annie.

Peneliti senior dari CSIS (Center for Strategic and International Studies), Harry Tjan Silalahi mengenang almarhumah sebagai pribadi yang terbuka dan tegas. ”Annie itu orangnya bersikap terbuka dan straight-forward. Itu kesan yang saya tangkap saat kami berdiskusi dalam beberapa kesempatan,” kata Harry, yang pertama kali mengenal almarhumah ketika menjadi anggota Komisi I DPR tahun 1967.

Terkenal di Deplu

Bahwa Annie sangat terkenal di Deplu diakui hampir semua diplomat dan pegawai di sana. Bahkan, dia bisa dianggap sebagai guru oleh para diplomat muda. Direktur Informasi dan Media Deplu, M. Wahid Surpiyadi, yang termasuk diplomat muda, mengaku belum pernah bertemu langsung dengan almarhumah. Namun dari teman-temannya, Wahid mengetahui almarhumah sebagai wartawati yang berani dan kritis. ”Saya dengar ada teman-teman saya yang pernah ditegur Ibu Annie karena tidak memberitahukan acara penting di Deplu,” kata Wahid yang bertandang ke rumah duka Senin lalu (11/8). Seorang staf bidang informasi dan media Deplu, Rusdi, mengakui bahwa almarhumah identik dengan Sinar Harapan. Bahkan Rusdi mengaku pernah dimarahi almarhumah saat tidak memberi tahu acara penting di Deplu ketika masih dipimpin Menlu Ali Alatas. Sejak itu saya selalu terkenang dengan Ibu Annie, kata Rusdi.

Irawan Abidin, mantan Direktur Penerangan Luar Negeri, yang mengaku kenal baik dengan almarhumah sejak tahun 1973 dan ketika almarhumah menjadi koresponden di Deplu, sangat sedih atas kepergian almarhumah. Maaf saya sengaja tidak mau memberi komentar dulu karena saya sedang membuat tulisan khusus tentang Ibu Annie,” kata Irawan saat ditanya kesannya tentang almarhumah melalui telepon. Bahkan, mantan Duta Besar Indonesia untuk Italia, Vatikan, dan Yunani tersebut mengaku sempat terharu saat menjenguk almarhumah kemarin malam.

Selalu Konsisten

Bachtiar Sitanggang, mantan wartawan Suara Pembaruan dan Sinar Harapan yang kini berprofesi pengacara, menilai, Annie adalah sosok wartawan yang senantiasa mengatakan ya di atas ya dan tidak kalau tidak. Sikap itu ditunjukkannya hampir kepada setiap orang tak pandang bulu pangkat dan jabatannya dan pada berbagai kesempatan secara terbuka. Ini yang membuat banyak orang enggan berhadapan dengannya.

Annie Bertha tidak sungkan menegor seorang pejabat tinggi termasuk menteri di depan bawahannya atas sesuatu yang mungkin tidak berjalan dengan semestinya. Banyak orang menghindari Annie, karena keterbukaannya itu, padahal bagi orang yang tahu kepribadian dan keikhlasan seorang Annie justru senang bergaul dengan dia, demikian Bachtiar, yang lama bertugas meliput di Istana semasa Presiden Soeharto.

Annie yang namanya suka diplesetkan menjadi Annie Bertha Sing Ora-Ora, juga sosok yang hangat dan menyenangkan. Kalau sudah ketemu, bisa berjam-jam dia bercerita mengenai berbagai pengalamannya yang sangat menarik dan kaya. Dia memang sangat menikmati pekerjaannya di dunia pers yang disebutnya glamour itu.

Merakyat

Walau berkawan dengan para menteri, duta besar, diplomat dan para pejabat lainnya, Annie sebenarnya juga diterima baik oleh lingkungannya. Dia pernah menjadi ketua RT selama beberapa tahun di lingkungan rumahnya, dan cukup populer di antara warga. Dia juga pernah dicalonkan untuk menjadi anggota Dewan Kelurahan di Kelurahan Cipinang Muara, pada 2001 lalu namun kalah dalam pemilihan.

Di kalangan gereja, dia juga seorang aktivis, baik di PGI maupun kalangan organisasi wanita gereja. Teman-temannya di kalangan wanita gerejalah yang banyak terlibat mempersiapkan pemakaman almarhumah pada hari Selasa (12/8) ini. Di saat-saat terakhir hidupnya, Annie masih memperlihatkan ketegaran dan keteguhan hatinya. Dia masih sering bertelepon ke kantor dan menyampaikan pesan-pesan dan saran liputan. Padahal dia sudah dalam keadaan lemah dan dilarang banyak bicara. Kini, Annie telah pergi meninggalkan kita semua. Namun kenangan mengenai dirinya akan tetap abadi, dan terekam dalam sejarah, melalui tulisan-tulisan dan berbagai laporan jurnalistiknya.

Satu hal yang tidak pernah dilupakan Annie, walaupun banyak menghabiskan waktu di kantor dan bertugas di luar negeri, Annie berkarya untuk gereja. Satu di antaranya, ia pernah menangani Buletin Oikoumene yang diterbitkan Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia. Annie telah kembali ke rumah Bapa di Surga. Selamat jalan, Zus Annie.


sumber artikel : www.tokohindonesia.com

Kamis, 05 April 2012

Kepercayaan Asli (Kuno) Suku Batak

Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah ‘dewa-dewa’. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada arwah leluhur serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan). Orang Batak percaya kepada arwah leluhur yang dapat menyebabkan beberapa penyakit atau malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan orang Batak di dunia ini dan yang sangat dekat sekali dengan aktifitas manusia.

Sebelum orang Batak mengenal tokoh dewa-dewa orang India dan istilah ‘Debata’, sombaon yang paling besar orang Batak (kuno) disebut ‘Ompu Na Bolon’ (Kakek/Nenek Yang Maha Besar). Ompu Nabolon (pada awalnya) bukan salah satu dewa atau tuhan tetapi dia adalah yang telah dahulu dilahirkan sebagai nenek moyang orang Batak yang memiliki kemampuan luar biasa dan juga menciptakan adat bagi manusia. Tetapi setelah masuknya kepercayaan dan istilah luar khususnya agama Hindu; Ompu Nabolon ini dijadikan sebagai dewa yang dipuja orang Batak kuno sebagai nenek/kakek yang memiliki kemampuan luar biasa. Untuk menekankan bahwa ‘Ompu Nabolon’ ini sebagai kakek/nenek yang terdahulu dan yang pertama menciptakan adat bagi manusia, Ompu Nabolon menjadi ‘Mula Jadi Nabolon’ atau ‘Tuan Mula Jadi Nabolon’. Karena kata Tuan, Mula, Jadi berarti yang dihormati, pertama dan yang diciptakan merupakan kata-kata asing yang belum pernah dikenal oleh orang Batak kuno. Selanjutnya untuk menegaskan pendewaan bahwa Ompu Nabolon atau Mula Jadi Nabolon adalah salah satu dewa terbesar orang Batak ditambahkanlah di depan Nabolon atau Mula Jadi Nabolon itu kata ‘Debata’ yang berarti dewa (=jamak) sehingga menjadi ‘Debata Mula Jadi Nabolon’.

Jadi jelaslah, istilah debata pada awalnya hanya dipakai untuk penegasan bahwa pribadi yang disembah masuk dalam golongan dewa. Dapat juga dilihat pada tokoh-tokoh kepercayaan Batak lainnya yang dianggap sebagai dewa mendapat penambahan kata ‘Debata’ di depan nama pribadi yang disembah. Misalnya Debata Batara Guru, Debata Soripada, Debata Asi-Asi, Debata Natarida (Tulang atau paman dan orang tua), dll. Tetapi setelah masuknya Kekristenan (yang pada awalnya hanya sebatas strategi pelayanan) kata debata semakin populer karena nama debata dijadikan sebagai nama pribadi Maha Pencipta.

Dari Kata Dewata menjadi Debata

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, kata atau istilah debata berasal dari bahasa Sansekerta (India) yang mengalami penyesuaian dialek Batak. Karena dalam dialek Batak tidak mengenal huruf c, y, dan w sehingga dewata berubah menjadi debata atau nama Carles dipanggil Sarles, hancit (sakit) dipanggil menjadi hansit.

Dari pengamatan penulis, setiap kata atau istilah Sansekerta yang memiliki huruf w, kalau masuk ke dalam Bahasa Batak akan diganti menjadi huruf b, atau huruf yang lain.
 
Istilah-istilah Sansekerta yang  diserap dalam bahasa Batak:
Istilah Sansekerta (India) ; Batak Toba ; Indonesia
Purwa ; Purba ; Timur
Wajawia ; Manabia ; Barat Laut
Wamsa ; Bangso ; Bangsa
Pratiwi ; Portibi ; Pertiwi
Swara ; Soara ; Suara
Swarga ; Surgo ; Surga
Tiwra ; Simbora ; Perak

Perhatikan huruf cetak tebal.

Dari contoh-contoh di atas, jelaslah bahwa setiap huruf w dalam bahasa Sansekerta (India) kalau dimasukkan ke dalam bahasa Batak akan berganti menjadi huruf b atau huruf lainnya. Wajar saja kalau Dewata dalam bahasa Sansekerta setelah masuk ke dalam bahasa Batak berganti menjadi Debata. Istilah ‘Dewata’ inilah yang membunglon ke dalam bahasa Simalungun menjadi ‘Naibata’ dan di daerah Karo menjadi ‘Dibata’ yang artinya tetap sama menjadi ‘dewa’.

 
Horas tano Batak...........
_______________________________

Senin, 26 Maret 2012

Umpasa Batak Di Namarhata Sinamot

Parboru Panise
Sai jolo dinangnang do asa dinungnung
Sai jolo pinangan do asa sinungkun

Burukburuk ni durung, parasaran ni sioto
Bangkona do manungkun, molo so binoto

Danggur ma danggur barat toho tu duhut duhut ditoru ni singkoru
Nungnga bosur hami mangan indahan na las sagat marlompan juhut
ba hatana paboa hamu ma raja ni boru

Sande sige tu bungkulan ni sopo
Bangkona do manise molo so binoto

Dia ma nuaeng langkatna, dia unokna
Dia ma nuaeng hatana, dia nidokna

ParanakGodang sibutong butong, otik sipir ni tondi
Tung so sadia pe na hupatupa hami, sai pamurnas ma i tu pamatang saudara to bohi

Habang pidong halohalo, didongani sitapitapi
Las ma rohamu manjalo, i dope na tarpatupa hami

Sititi ma sigompa, golang golang pangarahutna
Tung otik pe na hupatupa hami sai godang ma pisanuna

Bulung ni dapdap langkop
Ba idope na adong, ba i ma taparhajop

ParboruBagot na marhalto ma na tubu di robean
Horas ma hami na manganthon sai martamba sinadongan di hamu na mangalean

Tubu simarhorahora ditopi ni tapian
Sai ro ma tu hami silas ni roha tiur nang pansarian

Bona ni aek puli di dolok sitapongan
Sai tubu ma dihamu angka na uli, jala sai dor ma nang pangomoan

Inganan ni puli di hauma salenggam
Sai marangkup do na uli mardongan do na denggan

Ranting ni bulu duri jait masijaotan
Angkup ni hata na uli dia ma sitaringotan

ParanakPitu lilinami paualu jugianami
Na uli do nipinami ai di jangkon borumuna do anak nami

Sapala na mardalani unang ma olat ni Sigalangan
Sapala naung mangoloi borumuna unang ma diparalangalangan
Sai jalo hamu ma anak nami dongan ni borumuna sapanganan

Inganan masibulu dolok ni sitapongan
Baranai pe hami manjumpai hamu ndada ala godang ni sinadongan

Barita ni lampedang, mardangka bulung bira
Barita ni burjumu marboru, tarbege do ro didia

Amporik marlipik onggang marhabang
Gabe do parboli na otik gabe do nang parboli na godang

Aek godang do aek laut
Dos ni roha do sibahen na saut

Balintang ma pagabe tumundalhon sitadoan
Arinta ma gabe molo masipaolo oloan

ParboruPat ni gaja ma tu pat ni roha
Pahompu ni raja do hamu jala anak ni na mora

Tubu bagot di robean, tubu palia dilambung huta
Tarbarita do ompumu parompon sisegean jala parpinahan pitu rura

Barita ni lampedang mardangka bulung bira
Barita ni hamoraon muna tarbege do ro didia

Pitu do nang lilinami, paualu ugianami
Na uli do nang nipinami, ai gohanmuna ma nuaeng hajutnami

ParanakMadekdek ansoit tongon tu tarumbara
Unang dok hamu hami parholit, silehonon do soada

Niluluan tandok hape dapot parindahanan
Tolap pamangan do nian mandok, alai ndang tuk jamaon ni tangan

Sai tu ginjang ninna porda, sai tu toru do pambarbaran
Sai naeng mamora do nian dipangido roha
Hape sai hapogoson do dilehon sibaran

Tubu antaladan jonok tutadatada
Hansit do rajanami tangan mandanghurhon na so ada

Tombak sulu sulu parasaran ni haluang
Hula hula nabasa do hamu na so mohop mida uang

ParboruSonggop siruba ruba tu dangka ni ansoit
Ai anggo tu hula hula ndang boi iba mangholit

Tombak di dolok dolok hatubuan ni suga suga
Na mandanggurhon tu dolok do na mangalehon tu hula hula

Nidurung situma laos dapot pora pora
Molo buas iba tu hula hula, na pogos hian iba ingkon gabe mamora

Tubu hau toras di dolok ni Sitapongan
Ingkon gabe do hita jala horas molo masipaolo oloan

Duru duru ni huta panuanan ni salaon
Pangidoan ni hula hula, dao do i juaon

Umpasa Sian Dongan sahuta
Sambilma tartondong dapotan ampapaluan
Asa denggan martondong unang masipamaluan

Lubuk Siguragura denggan do panjalaan
Molo mangido hulahula, olat ni na tarbahen ba tinambaan

Sinuan bulu sibahen na las
Sinuan partuturan sibahen na horas

Dolok ni pangaloan hatubuan ni hau toras
Na masipaolooloan do mambahen gabe jala horas

Marasar ma binsusur di ramba di robean
Asa denggan martutur, naeng ma masipaunean

Tuat siputi nangkok sideak
Ia naumuli, i ma tapareak

Umpasa Batak Tikki Tardidi Dakdanak

Umpasa ni halak Batak ditingki pesta Tardidi Dakdanak:

Dangka ni bulu godang pinangaitaithon
Sai simbur magodang ma ibana mamboan goarna i, tongka tu panahitnahiton

Habang ambaroba diatas ni Sibuntuon
Sai na burju ma ibana marroha, jala jolma sitiruon

Dolok ni Janjimauli hatubuan ni simarhorahora
Goar na uli ma goarna i, donganna gabe jala mamora

Sahat sahat ni solu sahat ma di rondang ni bulan
Leleng ma ibana mangolu mangusung goarna i diringiring Tuhan

Tu hamu natorasna on ma dohonon nami
Tutu ma tambinsu di toru ni pinasa
Sai martinodohon dope dakdanak na tardidi on angka anak na bisuk dohot angka boru na ulibasa

Horbo ni sibuluan manjampal di balian
Sai dapot ma di hamu angka na niluluan jala sai tiur nang pansarian

Sahat sahat ni solu sahat ma tu bontean
Sahat ma hamu leleng mangolu jala sahat tu panggabean

Umpama Ni Halak Batak

Angka Umpama ni halak Batak :
  1. Tongka do mulak tata naung masak, mulak marimbulu naung tinutungan
  2. Tu duru ma hata mabuk, tu tonga hata umum
  3. Ndang adong amporik na so siallang eme
  4. Ingkon sada do songon dai ni aek, unang mardua songon dai ni tuak
  5. Di ginjang bulung botik binoto paetna, buni parsisiraan binoto ansimna
  6. Unang songon ulubalang so mida musu
  7. Diorong asu do na so ompuna, paniseon do halak di na so padanna
  8. Ndang piga halak sigandai sidabuan, alai godang sigandai hata
  9. Piltik ni hasapi do tabo tu pinggol, anggo piltik ni hata sogo do begeon
  10. Hata paduadua suminta parsalisian, hata patolutolu suminta parrosuan
  11. Ganjang pe nidungdung ni tangan, ganjangan dope nidungdung ni roha
  12. Molo iba maniop matana halakan maniop suhulna, aganan ma pinalua
  13. Santau aek nuaeng, duaan tahu aek marsogot, na santahu i do pareahan
  14. Ingkon martangga martordingan do songon paranak ni balatuk
  15. Sai martanda ma songon adian, marhinambar songon dolok


horas ....